Pendidikan

Cara Kenali Diri dan Tangani Stres Untuk Mahasiswa

×

Cara Kenali Diri dan Tangani Stres Untuk Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

Cikarang, 11 Januari 2026 – Memasuki awal tahun 2026, pembahasan mengenai
kesejahteraan emosional di lingkungan perguruan tinggi kian memanas seiring dengan
meningkatnya tekanan hidup yang dihadapi oleh generasi muda. Isu kesehatan mental
mahasiswa saat ini bukan lagi sekadar perbincangan di media sosial, melainkan sudah
mencapai tahap krisis yang memerlukan langkah nyata dari berbagai elemen institusi.
Fenomena ini tercermin jelas dalam hasil survei yang melibatkan 40 responden dari kalangan
mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Cikarang.
Data tersebut menunjukkan sebuah realitas pahit bahwa mayoritas mahasiswa sedang
berjuang melawan stres yang sangat berat, di mana tekanan akademik yang menuntut standar
tinggi serta masalah ekonomi menjadi dua beban utama yang saling menghimpit
kesejahteraan psikis mereka.
Menanggapi fenomena yang mengkhawatirkan ini, Jihan Fidinia Dwitami, seorang
mahasiswa semester akhir Program Studi Psikologi Universitas Paramadina Cikarang yang
juga aktif sebagai konselor dan asisten laboratorium, memberikan pandangan profesionalnya.
Dalam sebuah sesi wawancara yang dilakukan di lingkungan kampus Universitas
Paramadina, Jihan Fidinia Dwitami menekankan bahwa hal mendasar yang sering dilupakan
oleh mahasiswa adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri sebelum terjebak dalam
pusaran stres.
Menurut Jihan, pemahaman mendalam mengenai sumber stres atau stressor merupakan
langkah awal yang krusial. Mahasiswa perlu melakukan refleksi apakah tekanan yang mereka
rasakan murni berasal dari beban tugas perkuliahan, ketidakmampuan mengelola waktu, atau
justru faktor eksternal lainnya.
Pengelolaan waktu yang buruk serta pengabaian terhadap pola hidup sehat, seperti durasi
tidur yang tidak konsisten, sering kali menjadi pemicu utama yang memperparah kondisi
mental mahasiswa tanpa mereka sadari secara langsung.
Lebih lanjut, Jihan Fidinia Dwitami menjelaskan bahwa pola tidur bukan hanya sekadar
aktivitas istirahat, melainkan bagian dari regulasi emosi. Banyak mahasiswa yang terjebak
dalam pola pikir bahwa begadang adalah sebuah keniscayaan dalam dunia akademik, padahal
kurang tidur secara sistematis akan menurunkan kemampuan otak dalam memproses emosi
negatif, yang pada akhirnya akan meningkatkan sensitivitas terhadap stres.
Selain pola tidur, ia juga menyoroti manajemen waktu sebagai keterampilan hidup yang
sering kali disepelekan. Kegagalan dalam membagi waktu antara aktivitas organisasi, tugas
kuliah, dan kehidupan pribadi akan menciptakan tekanan yang terakumulasi.
Jika akumulasi ini tidak dikelola dengan teknik relaksasi atau koping yang tepat, maka
mahasiswa akan sangat rentan mengalami gangguan kesehatan mental yang lebih serius,
mulai dari kecemasan berlebih hingga gejala depresi ringan yang dapat menghambat fungsi
sosial maupun akademik mereka.
Hasil survei yang dilakukan tim jurnalis juga menyingkap fakta lain yang tidak kalah penting,
yaitu adanya persepsi kuat di kalangan mahasiswa bahwa institusi kampus masih
menunjukkan sikap yang kurang peduli terhadap kesejahteraan mental mahasiswanya.
Responden secara kolektif menyuarakan bahwa fasilitas kesehatan mental di lingkungan
kampus, khususnya di wilayah Cikarang, masih sangat minim dan sulit diakses. Tidak adanya
wadah konsultasi yang mumpuni serta terbatasnya ruang aman bagi mahasiswa untuk
bercerita tanpa takut akan stigma, membuat banyak dari mereka memilih untuk melakukan
penanganan mandiri atau self-coping.
Ironisnya, metode penanganan mandiri yang paling banyak dilakukan adalah tidur dalam
waktu yang sangat lama sebagai bentuk pelarian. Menanggapi hal ini, Jihan Fidinia Dwitami
memberikan peringatan keras bahwa meskipun tidur bisa memberikan ketenangan sesaat,
tindakan tersebut bukanlah solusi jangka panjang.
Jika pola pelarian ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi dari tenaga ahli, hal tersebut
justru akan memperparah kondisi psikis karena individu kehilangan kesempatan untuk
mengidentifikasi dan menyelesaikan akar masalah dari stres yang dialaminya.
Melihat krisis yang sedang terjadi, diperlukan langkah-langkah strategis yang bersifat
sistemik dan berkelanjutan dari pihak kampus. Jihan Fidinia Dwitami mengusulkan agar
setiap program studi mulai memprioritaskan penyediaan layanan psikologi yang profesional
dan mudah dijangkau.
Selain itu, kegiatan edukatif seperti seminar kesehatan mental tidak boleh lagi dianggap
sebagai kegiatan seremonial belaka, melainkan harus diadakan secara rutin, misalnya setiap
tiga bulan sekali, untuk membangun literasi kesehatan mental di kalangan mahasiswa.
Peran organisasi mahasiswa, seperti Himpunan Mahasiswa (Hima), juga menjadi sangat
krusial dalam hal ini. Organisasi tersebut diharapkan mampu menjadi lini terdepan dalam
menciptakan aktivitas relaksasi yang inklusif, seperti program makrab yang difokuskan pada
pengenalan diri atau sesi berbagi pengalaman yang dipimpin oleh ketua himpunan guna
membangun solidaritas emosional antar-mahasiswa.
Dengan adanya dukungan dari lingkungan terdekat, mahasiswa akan merasa lebih didengar
dan memiliki sistem pendukung yang kuat.
Selain dukungan institusi, Jihan Fidinia Dwitami juga menekankan pentingnya strategi
pribadi bagi setiap individu mahasiswa dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Ia
menyarankan agar generasi sekarang lebih fokus pada apa yang sedang mereka jalani saat ini
tanpa terlalu terbebani oleh ketakutan akan kegagalan yang belum terjadi.
Salah satu metode yang dianjurkan adalah pembuatan perencanaan kegiatan yang mendetail
dari poin A sampai Z. Namun, perencanaan ini harus dibarengi dengan mentalitas yang
fleksibel; ketika rencana utama mengalami kendala atau sedikit meleset, mahasiswa
diharapkan tidak langsung merasa gagal, melainkan mampu beralih ke rencana cadangan
yang telah disiapkan.
Dengan memiliki peta jalan yang jelas namun tetap adaptif, tingkat kecemasan terhadap
kegagalan dapat diminimalisir secara signifikan. Hal ini akan membantu mahasiswa untuk
tetap tenang dan fokus dalam mencapai target-target akademis maupun pribadi mereka.
Sebagai penutup, isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa adalah tanggung jawab
kolektif yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, hingga kesadaran individu itu
sendiri.
Upaya pemerintah untuk memperluas layanan konseling dan edukasi publik harus disambut
baik oleh masyarakat dengan cara menghilangkan stigma negatif terhadap penderita
gangguan mental.
Ruang-ruang aman untuk saling mendengar dan peduli harus terus dibangun agar tidak ada
lagi mahasiswa yang merasa sendirian dalam menghadapi tekanan hidupnya. Masyarakat dan
pihak kampus harus mulai memandang kesehatan mental sebagai aset yang sama berharganya
dengan prestasi akademik.
Tanpa jiwa yang sehat, potensi intelektual mahasiswa tidak akan dapat berkembang secara
maksimal untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa di masa depan.
Tim Redaksi & Produksi
Liputan berita ini disusun oleh tim jurnalis mahasiswa dari Program Studi Ilmu Komunikasi,
Kelas 44.3A.24, sebagai bagian dari tugas mata kuliah Online Journalism (Liputan Berita
Hard News):
● Thoriq Azzam – Reporter Lapangan
● Adelen Dewi Haryadian
● Claudia Lestari Sihombing
● Blessed Lewi Prinsof Andra Kurniawan
● Jelita Sukma Sanggarwati Pursidi
untuk detail lebih lanjut mengenai penanganan isu kesehatan mental, dapat dilihat melalui
link video berikut: https://youtu.be/cH7mh6-OaMA?si=Kwk4gKXHbuDZIRWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *